Adab Mengisi Waktu Setelah Terbit Matahari hingga Zuhur

Pemateri: Al-Ustadzah Afifah Nuraniah Lc.,M.PD
Kitab: Bidayatul Hidayah
Penulis: Imam Al-Ghazali
Bab: Adab Mengisi Waktu Setelah Terbit Matahari hingga Zuhur
Dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa rentang waktu ini adalah salah satu momen penentu: apakah seseorang naik derajatnya di sisi Allah, atau justru turun tanpa ia sadari.
1. Memahami Awal Waktu
Jangan Tergesa Beribadah. Setelah matahari terbit, ada waktu singkat di mana shalat tidak dianjurkan (waktu karāhah), yaitu sampai matahari benar-benar naik setinggi tombak (kurang lebih sekitar seperempat jam setelah terbit). Setelah itu barulah dianjurkan menunaikan shalat Dhuha. Semakin banyak semakin baik, selama tidak memberatkan dan tetap menghadirkan hati.
Namun Imam Al-Ghazali tidak ingin kita berhenti pada Dhuha saja. Pertanyaannya: setelah shalat, waktu pagi mau diisi dengan apa?
Empat Tingkatan Manusia dalam Mengisi Waktu Pagi
Imam Al-Ghazali membagi manusia menjadi beberapa derajat sesuai dengan bagaimana mereka menggunakan waktu antara terbit matahari dan menjelang Zuhur.
1️⃣ Tingkatan Tertinggi: Ahli Ilmu yang Mengamalkan
Ini adalah derajat paling utama setelah para nabi. Mereka menggunakan waktu paginya untuk:
Menuntut ilmu agama, Mengajar, Memahami syariat, Memperbaiki hati dan akhlak. Ilmu yang dimaksud bukan ilmu dunia semata, tetapi ilmu yang:
Menghidupkan hati, Membersihkan penyakit batin, Membimbing amal agar benar, Mengantarkan pada pengenalan kepada Allah.
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa menuntut ilmu yang bermanfaat lebih utama daripada sekadar memperbanyak ibadah sunnah tanpa ilmu. Karena amal tanpa ilmu bisa salah arah.
Ilmu adalah cahaya. Tanpanya, ibadah bisa kehilangan ruh.
2️⃣ Tingkatan Kedua: Ahli Ibadah
Mereka mungkin tidak mendalami ilmu secara luas, namun waktunya dipenuhi dengan: Dzikir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Membaca Al-Qur’an, Shalat sunnah.
Ini adalah derajat yang mulia. Mereka menjaga hati dan lisan. Walaupun tidak setinggi ahli ilmu, mereka tetap berada dalam keselamatan dan kebaikan.
3️⃣ Tingkatan Ketiga: Orang yang Bekerja dengan Niat Benar
Ada orang yang tidak bisa sepenuhnya mengisi pagi dengan ilmu atau ibadah sunnah karena harus mencari nafkah. Jika ia bekerja dengan niat: Menjaga kehormatan diri, Menghidupi keluarga, Agar tidak meminta-minta, Agar bisa taat kepada Allah. Maka pekerjaannya bernilai ibadah.
Syaratnya:
Tidak melalaikan kewajiban
Tidak tenggelam dalam cinta dunia
Tidak melakukan yang haram
Tidak berlebihan dalam perkara mubah
Dunia yang diniatkan dengan benar berubah menjadi akhirat.
4️⃣ Tingkatan Keempat: Orang Lalai
Inilah yang paling berbahaya. Mereka menghabiskan waktu dengan:
Kesia-siaan
Obrolan tanpa manfaat
Mengikuti hawa nafsu
Tenggelam dalam ambisi dunia
Lalai dari dzikir dan akhirat
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa manusia bisa turun derajatnya secara bertahap:
Awalnya hanya sibuk dengan perkara mubah berlebihan. Lalu condong kepada syahwat.
Lalu hati mengeras. Hingga turun derajatnya seperti hewan, bahkan lebih rendah. Turunnya tidak terasa. Tetapi dampaknya besar. Bila Tidak Mampu Memperbaiki Orang Lain, Selamatkan Dirimu
Imam Al-Ghazali memberikan prinsip penting tentang pergaulan dan kesendirian.
Jika seseorang tidak mampu berdakwah, tidak mampu memperbaiki orang lain, dan khawatir agamanya rusak karena pergaulan. Maka uzlah (menjaga jarak) lebih selamat baginya. Namun jika dalam kesendirian muncul was-was dan godaan syaitan, maka ia harus menyibukkan diri dengan ibadah.
Jika tetap tidak mampu, beliau menyampaikan kalimat yang sangat tegas:
Jika pilihanmu antara bergerak dalam maksiat atau tidur, maka tidur lebih baik.
Karena tidur hanya menghentikan aktivitas dunia,
sedangkan maksiat merusak agama.
Prinsip Besar: Pilih Keadaan yang Paling Menjaga Agama
Imam Al-Ghazali menutup dengan kaidah yang sangat dalam:
Jika tidak mampu meraih “ghanimah” (keuntungan besar), maka ridhalah dengan “salamah” (keselamatan).
Artinya:
Jika belum bisa menjadi ahli ilmu, Belum mampu jadi ahli ibadah, Belum sempurna dalam amal. Maka minimal jangan sampai terjerumus dalam kerusakan.
Keselamatan agama lebih penting daripada ambisi dunia. Waktu Pagi Adalah Penentu Derajat
Waktu antara terbit matahari dan Zuhur adalah cermin kesungguhan seseorang.
Di situlah terlihat:
Siapa yang serius mengejar akhirat
Siapa yang menjaga niat dalam dunia
Dan siapa yang tenggelam dalam kelalaian
Waktu tidak pernah kosong. Ia pasti terisi.
Pertanyaannya:
Diisi dengan apa?
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa nilai hidup seseorang terlihat dari bagaimana ia memperlakukan waktunya. Karena waktu adalah modal utama menuju Allah.
Jika kita belum mampu menjadi yang tertinggi,
setidaknya jangan menjadi yang terendah.
Dan jika belum mampu meraih kemuliaan besar,
jangan lepaskan keselamatan.