• Ming. Sep 20th, 2020

KAJIAN KITAB AD DAA’ WAD DAWAA’ [Akibat dari Melakukan Dosa]

Tiada akibat tanpa adanya sebab. Setiap dari kita pasti pernah melakukan yang namanya dosa. Dari sebab dosa itulah timbul akibat. Lalu, apa saja akibat dari melakukan dosa?

Diantara akibat dari melakukan dosa adalah Allah akan meninggalkan dan membiarkan hamba yang berbuat dosa tersebut. Setelah ditinggalkan Allah, maka akan muncul kehancuran tanpa adanya harapan keselamatan.

Ketika seorang hamba melupakan Allah, maka Allah akan melupakan hamba tersebut. Allah akan melupakan kenikmatan dan tidak memperdulikan lagi hamba yang demikian. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr: 19 yang berbunyi

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Orang yang berbuat maksiat akan melalaikan kepentingan diri sendiri. Ia lebih takut kepada yang tampak daripada yang tidak tampak. Maksud yang tampak disini adalah hukuman dari manusia dan yang tidak tampak adalah hukuman dari Allah SWT. Dalam urusan ibadah, lihatlah siapa kita dan siapa Allah, sedangkan dalam bermuamalah lihatlah orang lain.

Akibat lain dari melakukan dosa adalah Allah akan mengeluarkan dari cakupan ihsan. Apa itu ihsan? Ihsan adalah kita beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat-Nya. Hal ini sesuai dengan hadits arba’in yang kedua. Tentu tidak mudah melakukannya. Namun, ketahuilah bahwa ia akan menjadi tameng ketika kita melakukan kemaksiatan. Karena senantiasa menganggap bahwa Allah bersama kita dan mengawasi setiap hal yang kita lakukan.

Ingatlah, ketika Allah telah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan menetapkan orang tersebut senantiasa dalam zona iman.

الرّجال إبن بيئته

Seseorang itu menjadi anak lingkungannya

Orang-orang yang beriman akan beruntung. Diantara keuntungannya adalah sebagai berikut:

  • Allah memberikan pahala yang besar. Dalam QS. An-nisa: 146,
… فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

“… Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.”

  • Malaikat pembawa ‘Arsy akan memintakan ampun untuk orang beriman
  • Allah menjadi pelindung bagi orang beriman.
  • Allah menjanjikan derajat dan ampunan. Hal ini sebagaimana dalam QS. Al-Anfal: 4.

أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia”

Iman itu menjadi penyebab datangnya kebaikan, sedangkan keburukan itu karena tidak adanya iman.

Seorang Sufi (ahli tasawuf) mengatakan “Kalian takut dosa, tetapi saya takut kafir”. Kafir yang dimaksudkan disini adalah كُفْرٌ دُوْنَ كُفْرٍ. Yaitu, kafir karena melakukan maksiat tetapi tidak keluar dari zona keislaman. Jadi, jangan pernah menyepelekan kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita dan menetapkan kita semua selalu dalam kebaikan, in syaa Allah. Baarakallaahu fiikum.

Tinggalkan Balasan