Secercah Cahaya Lilin di London

Kring..Suara bel berbunyi, terdengar di seluruh sudut  bangunan Oxford University. Seorang muslimah membereskan bukunya dan segera keluar dari kelas, yang mana kelas itu adalah kelas jurusan saint.

Ia berjalan menyusuri lorong-lorong yang panjang nan megah tersebut. Saat semua hening,brak, seseorang menabraknya, “Sorry Cintya, sorry, it’s my fault..”katanya, sambil membantu Cintya membereskan buku-buku yang terjatuh. “It’s okay, I am fine” jawab Cintya seraya berdiri.

Lalu merekapun melanjutkan perjalanan masing-masing. Begitu juga cintya.Ia segera berjalan melewati  kelas-kelas yang masih sedikit ramai dengan mahasiswa Oxford University tersebut.

Ia pun berjalan menuju halte terdekat. Sore hari ini berbeda, cahaya senjanya yang kemerah-merahan tertutupi oleh awan hitam yang sangat pekat,seakan-akan malampun telah tiba.

Cintya sedikit mempercepat langkahnya, karena Ia tahu sebentar lagi awan akan menumpahkan seluruh bebannya. Dan benar,tetesan demi tetesan air matata karena tangisan langitpun berjatuhan, tak memandang siapa dan apa yang akan tertimpa olehnya.

Ia pun berlari mencari tempat untuk berteduh. Ia menuju suatu toko yang sudah tutup, lalu mengeluarkan jaketnya dari tas untuk menutup tubuhnyadari dingin.

Tapi Ia tak sendirian disana. Ada seorang kakek tua yang sedang berteduh juga,dan kakek tua itu terlihat sangat kedinginan. Lalu Cintya bertanya,”Excuseme sir,do yo fell so cold?”,”Yes, I fell so cold “katanya.”You can wear this,sir.”sambil menyodorkan jaket yang semula akan Ia pakai “Thank you”ucapnya sambil menerima jaket tersebut dan memakainya.

Cintya melihat arlojinya,sebentar lagi masuk waktu maghrib. Ia segera berpamitan kepada kakek itu, kemudian berlari menyebrang jalan dengan melewati derasnya hujan. Di saat yang bersamaan, sebuah  kendaraan melaju dngan cepat dari arah barat. Pandanganya kabur karena tetesan air hujan yang jatuh bertubi-tubi. Suara klakson terdengar nyaring, menandakan bahwa kendaraan sudah dekat. Kejadian tabrakan itupun terjadi. Cintya tergeletak di tengah jalan,tak sadarkan diri.

~In The Hospital~

               Cintya membuka mata, melihat sekeliling yang masih asing baginya. Suara alat-alat kesehatan mulai beraturan setelah Ia siuman.  Juga berdiri dokter dan beberapa perawat yang membantu melepaskan alat-alat pernafasan dari wajahnya.

Di salah satu sudut ruangan, seorang laki-laki tua menyugihkan senyum kepada cintya,setelah melihatnya siuman. “Do you remember me?Are you okay?”tanyanya. Cintya hanya bisa tersenyum,”I am very grateful for your help yesterday, calm your mind first because you have to rest completely ”katanya.

Tapi tetap saja, Cintya memikirkan bagaimana Ia membayar semua tanggungan rumah sakit. Karna Ia hanya seorang muslimah yang sedang menimba ilmu di Negeri Ratu Elizabeth. Beasiswa penuh yang ia dapatkan, karena prestasinya yang menajubkan membawanya ke salah satu negara yang berada di Benua Eropa tersebut.

Ia tak sadar bahwa kakek tua itu mengetahui keresahan yang sedang ia pikirkan. Lalu, kakek itu berkata lagi, “ Don’t worry  you don’t have to think about hospital fees, because this hospital is mine, and you will get the best service, in syaa Allah.” Cintya kaget mendengar apa yang kakek itu ucapkan, ia pun bertanya “Are you moslem?” dengan jawaban yang mantap, ia berkata “Yes, I am a moslem tMendengar jawaban tersebut, Cintya merasa senang dan sangat bersyukur. Bantuannya yang mungkin menurut orang lain sepele, dibalas dengan sesuatu yang sangat membantunya, disaat ia mendapat musibah melalui perantara kakek tersebut.

Matahari terbit dari timur memancarkan cahaya jingganya yang khas, menyaksikan skenario Allah yang indah itu. Menggantikan bulan yang sedari tadi menemani kegelapan bersama bintang. Berputar dan bergerak, bersama dengan iringan do’a-do’a dari para mujahid diseluruh dunia.

 

Created by : Dinda Fauziyah (3)