• Sab. Okt 31st, 2020

 

Menjadi anggota dari halaqoh takhossus pondok ini, memiliki sebuah rasa pasti. Bangga? Tertantang? Atau justru terbebani? Yaa…  sebuah rasa yang pasti tak akan bergulat jauh diantara tiga hal tadi. Dan kecenderungan rasa itu pastilah bergantung pada bagaimana niat hati itu sendiri.

Bila ditanya senang, itu hal yang pasti. Siapa sih, yang tidak merasa senang? Tanyakan saja ke seluruh 33 santri takhossus itu. Pasti mereka senang karena telah mendapat kesempatan itu. Bahkan, dengan lolosnya mereka dari seleksi awal saja, sudah  diibaratkan seperti prestasi tersendiri.

Namun, apa semua kisah kami semenyenangkan itu? Seindah panorama mentari di balik sawah belakang pondok kami? Atau senikmat kuah indomie rasa kari ayam buatan ibu di kala liburan?

Jawabannya, tidak. Suka duka itu tetap ada. Rasa speechless selama masa adapatasi itu juga terkadang mempengaruhi. Bahkan, beberapa kali berakibat buruk bagi kegiatan menghafal di salah satu hari.

Ketika di awal, telah disepakati. Kami akan menghafal satu lembar pertama surat al-Ankabut. Kenapa satu lembar? Karena di halaman pertama, awal surat teletak di paruhan kedua dari keseluruhan. Kami pun membaca satu lembar itu secara tartil sambil mentadabburi tiap ayat tersebut.

Menyentuh hati, boleh dibilang. Karena sebelum ini, ketika bertadabbur, kami hanya sebatas membaca terjemah ayat. Dan kali ini, ustadz pun ikut menyangkut pautkan satu ayat dengan ayat lain, termasuk kisah dan asbabun nuzul yang bersangkutan. Rasanya menyenangkan. Membuat kami paham benar terkait identitas lengkap dari ayat yang kami hafal.

Selanjutnya, proses menghafal. Mulai dari jumlah ayat pada satu halaman, ayat berapa saja, potongan awal ayat, termasuk dengan rentetan cara pengulangannya. Alhamdulillah terasa mudah dan lancar. Di halaqoh sore pun kami bisa menyetorkan satu lembar tersebut meski harus diacak ataupun dibolak-balik urutan ayatnya.

Kemudian menilik hari kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

Nah, pada hari-hari itulah hal-hal error mulai berdatangan

Simpel saja orang bertanya. Emang kenapa? Sesulit apa, sih? Hmm… jika dipikir lagi, memang tak ada yang sulit. Biasa saja kita mendengarnya. Tapi, ketika sudah dilakukan… nah, itu. Ya itu yang susah. Ya apa lagi kalau bukan karena belum terbiasa.

Bayangkan saja! Dulu ketika halaqoh, beberapa dari kami hanya mengandalkan sekitar 30-45 menit dari akumulasi 145 menit jam halaqoh untuk hafalan dan setoran. Selebihnya, ngobrol dan rebahan! Bercanda, cekikikan, gosip sana-sini ibarat ibu-ibu PKK sudah menjadi kebiasaan.

Jadi, jangan ditanya agenda lain kami di luar halaqoh. Hanya santri-santri ‘alim’ yang itu-itu saja orangnya yang masih sempat bertaubat dan membuka qur’annya di kamar, atau di kelas.

Soal bercanda di waktu halaqoh, okelah kita skip. Dan kali ini, dengan full nya proses halaqoh, itu mempermudah kami menyicil target dalam satu hari. Meski terkadang rasa kantuk itu tetap ada, setidaknya tingkat kesadaran kami jauh lebih baik dari tahun kemarin.

Nah, soal muroja’ah ini yang sempat menjadi masalah.

Ketika dalam satu hari kami telah mendapat satu halaman ziyadah (tambahan/hafalan), di hari berikutnya kami harus mengulang hafalan kemarin sebanyak 20 kali di tambah jatah satu halaman baru di hari itu. Dan, jangan lupakan 100 kali istighfar dan sholawat sebagai wirid penjaga niat di hati kami.

Glek. Respon kami di awal sontak menelan ludah. Merasa tertantang dengan challenge tetap dari halaqoh takhossus tersebut.

Di hari kedua kami sempat kewalahan. Terlebih dengan rentetan agenda pondok yang full dari seusai halaqoh pagi hingga malam menghampiri. Bingung untuk mensiasati waktu. Terlebih posisi kami saat itu belum pernah ada pengalaman khusus berkomat-kamit dalam jangka waktu panjang untuk muroja’ah.

Sebenarnya waktu KBM adalah waktu yang pas untuk dicuri. Eit, pastinya bukan membuka qur’an ketika ustadzah menerangkan loh! Maksudnya yaa antara jam istirahat, ataupun jamkos (jam kosong). Haha… iya. Anak pondok pun masih punya jatah pengalaman jamkos.

Tapi, kenyataannya, benar-benar berbeda. Entah kenapa, dewan asatidz dan ustadzah semangat sekali membagi ilmunya pada kami. Datang sesuai jam pelajaran, dan ketika berhalangan hadir pun, tugas-tugas lain telah disiapkan sedemikian rupa. Jam istirahat pun hanya berdurasi 2×10 menit yang kadangkala terpangkas tugas lain ataupun jatah ‘bernafas’ kami setelah menerima pelajaran. Sehingga, mengandalkan waktu di sela-sela KBM tidak bisa dijadikan patokan.

Kecuali, jika benar-benar ada bonus jamkos. Hehehe…

Lalu bagaimana kami membagi waktu???

Yaah, pertanyaan sulit yang kami sendiri pun agak kewalahan untuk menjawabnya. Karena, diantara siang dan sore hari, hanya tersisa waktu kisaran satu jam yang juga mesti terpangkas dengan beberapa hajat pribadi seperti antri mandi, antri mencuci, antri makan, dan lain sebagainya.

Alhasil, kami pun harus merelakan beberapa hal jika target itu belum kami penuhi. Terkadang mengundurkan jadwal mencuci baju, merelakan wartel atau kantin, dan mengkamuflase waktu makan dengan puasa daud ataupun senin-kamis.

Hingga tiba hari dimana kami harus menyetorkan satu juz hafalan selama tiga pekan terakhir. Kembali speechless karena kategori kesalahan yang dinilai berbeda dengan kriteria tahun lalu. Bila sebelumnya kesalahan menyebutkan awal ayat, bunyi harokat, kekeliruan huruf, dan kesalahan tipis lainnya adalah khotho’  khofiy (kesalahan kecil), maka itu semua atau segala jenis pelafalan yang merubah makna ayat adalah bagian dari khotho’ jaliy (kesalahan besar). Sedangkan yang termasuk dalam khotho’  khofiy hanyalah kesalahan cara membaca hukum tajwid yang semestinya. Ditambah lagi, bacaan tartil yang jauh dari ritme beat khas anak pondokan adalah sebuah kewajiban.

Selain itu, bagi saya pribadi bersama enam teman yang sama-sama menduduki bangku niha’ie (akhir tahun), halaqoh takhossus pun menjadi kisah lain lagi. Ditengah tantangan rutnitas harian yang terasa cukup penuh, kami juga harus mengimbangi dengan amanah sebagai pembina pramuka. Meskipun bukan pengurus inti, beberapa kewajiban lain terkadang juga menghampiri. Terlebih ketika akhir bulan tiba, terdapat sebuah acara khusus yang membutuhkan waktu persiapan lebih ketimbang kegiatan pramuka biasa di setiap pekannnya.

Kami yang kaget. Bentrokan yang tak terhindarkan. Hal-hal error pun kembali bermunculan. Kami yang melalaikan muroja’ah, atau kami yang belum menuntaskan ziyadah satu halaman. Rasanya sedih. Terkadang jenuh. Tapi, lebih banyak lagi menyesal akan tiap desahan kecewa dari ustadz pembimbing ketika mendengar evaluasi dari kami.

Dan semua ini bersebabkan sama. Manajemen waktu yang kurang tepat.

***

Keluhan itu memang banyak dan beragam. Tapi tidak cukup dominan dan berkesan banyak daripada berbagai manfaat serta segi positif yang ditinggalkannya. Coba lihatlah kebiasaan baru sebagian besar dari kami. Tiap perubahan, tiap ghirah yang berkobar.

Dari seluruh perubahan yang terjadi, ada satu yang paling menonjol. Jikalau dulu di tiap-tiap waktu senggang kami habiskan dengan bercanda, bercerita, dan beromong kosongan. Hari ini, kami lebih banyak memanfaatkan waktu-waktu itu dengan muroja’ah. Awalnya susah, tapi lama-kelamaan sudah jadi kebiasaan. Jarang sudah kami berjalan ke musholla, ke kelas, atau ke kamar dengan menggumamkan lirik lagu barat. Yang ada justru lirihan ayat suci al-Qur’an yang terdengar. Tak peduli antri, berjalan, duduk, berdiri, ataupun di musholla dan tempat-tempat lainnya, hanya lantunan dzikir dan kalam Allah yang kami lantunkan.

Dan sungguh, efeknya pun berdampak begitu besar. Hati kami terasa lebih tenang. Lebih nyaman dan damai. Ibarat tiap ayat yang terucap, telah meninggalkan jejak aliran minuman yang segarnya tiada tara. Dan jujur saja, baru kali ini selama lebih dari tiga tahun belajar di pondok, kami terbiasa dan dapat murojaah tanpa mengenal waktu dan tempat. Bahkan tanpa melihat mushaf !

Kalaupun sesekali lupa pada salah satu ayat, selalu saja ada teman seperjuangan yang bisa dijadikan acuan. Cukup bertanya dan tak lama, melodi indah itu dapat kembali telantunkan. Apalagi setelah berhasil menyetorkan hafalan dua juz kemarin, maka wajiblah bagi kami untuk memurojaahi juz tersebut tiga kali sehari ! Tanpa mengurangi target ziyadah satu halaman di hari tersebut.

Selain murojaah unlimited, lewat halaqoh ini pun kami megerti benar betapa penting arti sebuah manajemen diri. Bagaiman kami mengatur waktu dan juga nafsu untuk menyeiramakan tiap kewajiban dan kebutuhan kami dalam satu hari.

Kami pun turut memahami betapa penting arti sebuah niat dalam beramal, dukungan semangat maupun seruan penguat teman seperjuangan. Semuanya bepilin dalam satu himpunan pada harmoni penuh suka dan duka.

Begitulah rutinitas baru yang In Syaa Allah bermanfaat bagi kami dunia akhirat. Berharap bahwa tiap kebaikan itu menjadi bekal nan saksi atas syafaat kami di hari kemenagan tiba. Demikian pulalah kami mengharapkan doa segenap orang tua dan para pembaca sekalian. Berharap bahwa apa yang tertulis oleh tangan yang lemah ini bukanlah bualan, melainkan kenyataan yang terus berlanjut hingga akhir tujuan.

Semoga seluruh kisah dan bukti perjuangan kami dapat menjadi motivasi. Dan bukan hanya untuk tiap mata yang mengetahi, tapi juga untuk diri kami sendiri.

Selamat Berjuang 🙂

 

Tinggalkan Balasan