• Sab. Okt 31st, 2020

Menjadi Santri Sejati (Bag. 2)

Sebelum anda membaca artikel ini, pastikan anda telah membaca artikel bagian pertama di link yang tertera di bawah ini :

https://ppduputri.or.id/kepondokan/2020/10/menjadi-santri-sejati-bag-1/

  طَلَبُ اْلعِلْم فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam hadits tersebut, dapat kita simpulkan bahwa menuntut ilmu adalah wajib hukumnya. Yakni apabila dikerjakan maka akan mendapatkan pahala. Sedangkan, apabila ditinggalkan maka akan mendapatkan dosa.

Tapi, apakah kita diwajibkan untuk menuntut seluruh ilmu yang ada di muka bumi ini?

Jawabannya, tentu saja tidak.

Sesungguhnya, Allah hanyalah mewajibkan kita untuk mempelajari ilmu haal. Lalu, apakah ilmu haal itu?

Haal sendiri berarti keadaan atau kondisi. Namun bisa juga diartikan dengan perkara yang sedang terjadi sekarang. Sehingga, ilmu haal adalah suatu ilmu mengenai segala sesuatu yang harus kita lakukan pada waktu tertentu yang kita sedang berada di dalamnya.

ilustrasi shalat

Contohnya adalah shalat lima waktu. Shalat lima waktu merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan oleh Allah SWT. bagi seluruh muslimin dan muslimat tanpa satupun pengecualian. Shalat lima waktu juga telah ditentukan waktu-waktu pelaksanaanya. Jadi, wajib pula hukumnya bagi seorang muslim untuk mencari ilmu tentang shalat.

ilustrasi haji dan ka’bah

Begitu pula dengan rukun islam yang lain, yaitu puasa, zakat, dan haji. Di bulan Ramadhan, seorang muslim diwajibkan untuk melaksanakan puasa. Oleh karena itu, menuntut ilmu tentang puasa adalah wajib hukumnya. Zakat dan haji pun tidak luput dari ilmu yang mengikatnya.

ilustrasi penjual dan pembeli

Jadi, apabila anda adalah seorang murid sekarang, maka anda pun diwajibkan untuk menuntut ilmu bagaimana menjadi seorang murid yang baik dan benar. Namun, apabila anda adalah seorang pedagang sekarang, maka anda diwajibkan untuk mengetahui ilmu jual beli. Bahkan, para pembeli pun juga harus paham betul mengenai ilmu jual beli. Seperti apa saja jual beli yang diharamkan, rukun-rukun jual beli, hingga bentuk-bentuk transaksi jual beli apa saja yang ada dalam syariat islam.

Kesimpulannya, setiap orang wajib untuk menuntut ilmu di mana dia menyibukkan diri di dalamnya. Mengapa demikian? Hal itu tentu saja bertujuan untuk menghindarkan diri dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah Ta’ala.

Selain ilmu mengenai pekerjaan masing-masing, diwajibkan pula bagi seorang muslim untuk mencari ilmu tazkiyah atau tasawuf. Yakni suatu ilmu yang membahas mengenai sifat-sifat terpuji dari hati seorang muslim. Seperti tawakkal, taubat, ketakutan terhadap Allah Ta’ala, ridho, dan lain sebagainya. Sifat-sifat tersebutlah yang akan menjaga seorang muslim agar senantiasa memiliki hati yang suci dari perasaan-perasaan yang buruk.

***

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ
niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

(al-Mujadilah ayat 11)

Di dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala menggunakan kata ‘darajaat’, yakni bentuk plural dari darajah atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi beberapa derajat. Lalu, apakah hikmah yang terkandung di balik bentuk plural tersebut? Tentu saja hal itu menunjukkan keutamaan ilmu dan orang-orang yang memilikinya.

Keutamaan ilmu yang pertama yaitu, ialah pembeda antara makhluk yang berakal dan tidak berakal. Karena sesungguhnya, manusia dan hewan memiliki sifat yang tidak jauh beda. Seperti keberanian, kekuatan, cinta, dsb. Namun, Allah Ta’ala mengangkat derajat manusia atas hewan sebab keilmuannya tersebut.

Bukan hanya diunggulkan atas hewan saja, bahkan jika manusia dan malaikat dibandingkan maka yang lebih mulia adalah manusia. Sebagaimana kisah Nabi Adam as yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk mengajarkan nama-nama benda kepada para malaikat sebelum ia diturunkan ke bumi. Setelah ia mengajarkannya kepada mereka, Allah pun memerintahkan para malaikat dan jin untuk bersujud kepada Nabi Adam as sebagai bentuk penghormatan baginya.

Sebab keutamaan dan kemuliaan ilmu yang lainnya adalah karena ilmu merupakan wasilah atau sarana menuju ketaqwaan. Ketaqwaan itu sendiri akan muncul setelah seseorang mengetahui ilmu agama seperti ilmu ‘aqidah, fiqih, serta cabang ilmu-ilmu agama yang lainnya.

Kajian kitab pada malam ini pun diakhiri dengan suatu syair yang dinukil oleh Imam az-Zarnuji dari Muhammad bin Al-Hasan bin Abdullah yang berbunyi;

تعـلـم فــإن الـعلـم زيـن لأهــلــه وفــضـل وعــنـوان لـكـل مـــحامـد

وكــن مـستـفـيدا كـل يـوم زيـادة من العـلم واسـبح فى بحـور الفوائـد

تـفـقـه فإن الـفــقـه أفــضـل قائـد الى الــبر والتـقـوى وأعـدل قـاصـد

هو العلم الهادى الى سنن الهدى هو الحصن ينجى من جميع الشدائد

فـإن فـقيــهـا واحــدا مــتـورعــا أشـد عـلى الشـيطـان من ألـف عابد

Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, juga keutamaan dan tanda bagi setiap keterpujian. Pergunakanlah hari-harimu dengan senantiasa menambah (ilmu itu) dan berenanglah dalam lautan keutamaan. Perdalamlah fikih, karena fikih adalah pemimpin utama (yang menunjukkan manusia) kepada kebaikan dan takwa. Tujuan yang paling lurus ialah ilmu (yang menunjukkan) kepada sunnah Nabi SAW. Ialah pula benteng yang akan melindungi dari berbagai macam kesulitan. Karena sesungguhnya satu orang faqih yang wara’ lebih ditakuti oleh syetan daripada seribu orang ahli ibadah.

***

Demikian ringkasan materi kajian Kitab Ta’limul Muta’allim yang dikaji pada ta’lim malam Ahad, 10 Oktober 2020 lalu. Semoga kita senantiasa istiqomah dalam menuntut ilmu-Nya hingga akhir menutup mata, amin yaa Rabbal ‘aalamiin. [Imtitsal Muthmainnah]

Tinggalkan Balasan