Pondok Pesantren Daarul Ukhuwwah Putri

Hilangnya Nikmat Berawal Dari Hati

Sabtu, 04 Juli 2026

Malam ini, kembali lagi dengan muhadhoroh mingguan bersama Al-Ustadz KH. Ahmad Syakirin Asmu’i, Lc,. MA., mengulas buku  Nashaikhul Ibad  yang ditulis oleh Sheikh Imam Nawawi Al-Bantani dalam  maqalah ke-14 . Kali ini membahas bagaimana setiap sifat buruk akan menghilangkan kenikmatan hidup seseorang.

Al-Ahnaf bin Qais menyampaikan enam kebenaran hidup yang berkaitan dengan kehidupan kita:

(لا رحة لحسود) Tidak ada kedamaian bagi orang yang iri hati.

Orang yang selalu iri tidak pernah merasa puas dengan nikmat yang Allah berikan kepadanya. Hatinya dipenuhi kegelisahan karena sibuk melihat kelebihan orang lain. Akibatnya, ia kehilangan rasa syukur dan kebahagiaan. Disini Imam Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa seorang mukmin hendaknya menjauhi hasad karena dapat merusak amal dan hubungan antarsesama. Sebaliknya, ia dianjurkan memiliki semangat munāfasah, yaitu berlomba-lomba dalam ilmu, ibadah, akhlak, dan amal saleh.

(لامروءة ااكذوب) Tidak ada wewenang bagi seorang pembohong.

Orang yang terbiasa berbohong akan kehilangan kepercayaan masyarakat. Begitu kebohongan mereka terbongkar, perkataan mereka akan diragukan bahkan jika suatu hari mereka mengatakan yang sebenarnya. Sebuah hadits menyebutkan, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: ” Barangsiapa menyekutukan atau berurusan dengan manusia dan tidak menzalimi mereka, berbicara kepada mereka dan tidak berbohong, dan berjanji kepada mereka dan tidak mengingkari janjinya, maka dialah orang yang kemuliaannya (muruah) sempurna, keadilannya nyata, dan dia harus dijadikan saudara (dalam persaudaraan Islam).

(لاحيلة للبخيل) Tidak ada pertolongan bagi orang yang bakhil (pelit).

Orang yang enggan berbagi akan sulit mendapatkan simpati dan bantuan ketika membutuhkan. Sifat pelit juga menjadi penghalang datangnya keberkahan rezeki. Sakha’ berarti kemurahan hati atau kedermawanan adalah berusaha untuk memenuhi kebutuhan seseorang yang membutuhkan dan memberikan kepadanya apa-apa yang menjadi haknya, sesuai dengan kemampuannya. Dan jika sakha’ itu terbatas, maka barangsiapa yang telah melebihi batasnya maka itu disebut dengan karīman berarti orang yang mulia akhlaknya dan ia berhak mendapatkan pujian. Dan barangsiapa yang lebih rendah darinya maka itu disebut bakhīlan berarti orang yang kikir atau pelit. Sebuah hadist mengatakan, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Makanan orang yang baik menjadi sebuah obat, dan makanan orang bakhil akan menjadi sebuah penyakit.”

Ketiganya mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan bukan hanya ditentukan oleh harta, jabatan, atau kekuasaan, tetapi terutama oleh kebersihan hati dan kemuliaan akhlak. Untuk tiga kenyataan hidup lainnya akan dilanjut pada muhadharah selanjutnya. Insyaa Allah.

 

(Alya Fadhilatuzzakiyyah)

 

Sekian untuk muhadharah kali ini. Untuk melihat kajian selengkapnya, tonton juga video Live Streaming pada channel YouTube kami. Hanya di DUPI ONE TV!

 

MENYIMAK- 

Situs web: ppduputri.or.id 

YouTube: DUPI ONE TV 

Instagram: dupione_malang

TikTok: dupione 

Facebook : Daarul Ukhuwwah Putri I

Leave a Reply