Bukan Cuma Ngaku Fans: 3 Bukti Kamu Beneran Cinta Rasulullah dan Agama
Hari Rabu, 02 September 2026.
Malam ini, kita melanjutkan pengkajian kitab Qomi’ut Thughyan karangan Syaikh Nawawi oleh Ustadz Ahmad Syakirin, Lc. MA. tentang kelanjutan dari ta’lim minggu kemarin.
Pernah enggak sih kita merasa sudah jadi seorang muslim yang oke, tapi saat ditanya seberapa besar bukti cinta kita ke Rasulullah dan Islam, kita malah bingung mau jawab apa? Sering kali kita merasa iman itu cukup di lisan dan rutinitas harian aja. Padahal, ada cabang iman (Shu’abul Iman) yang menguji seberapa dalam keterikatan hati kita sama Nabi dan agama ini.
Yuk, kita bedah cabang iman ke-14 sampai ke-16 ini dengan gaya yang santai tapi bikin mikir!
- Cabang Ke-14: Mencintai Nabi Muhammad SAW (Hubbun-Nabi)
Kalau ditanya siapa idola terbesarmu, jawabannya harusnya sudah jelas. Dalam ajaran Islam, iman seseorang belum bisa dikatakan sempurna kalau cintanya ke Rasulullah SAW masih kalah dibanding cintanya ke diri sendiri, harta, anak, atau pasangan.
Mencintai Rasulullah itu sebenarnya adalah wujud nyata dari cinta kita kepada Allah SWT. Bahkan, rasa cinta kita ke para ulama dan orang-orang saleh itu juga bersumber dari rasa cinta yang sama. Jadi, makin kita mengenal dan mengagumi beliau, makin mantap juga koneksi kita ke Sang Pencipta.
- Cabang Ke-15: Mengagungkan Kedudukan Nabi Muhammad SAW (Ta’dzim un-Nabi)
Cinta tanpa rasa hormat itu cuma omong kosong. Mengagungkan Rasulullah bukan berarti mendewakan beliau, melainkan paham betul betapa mulia kedudukannya di sisi Allah. Bentuk praktisnya di kehidupan sehari-hari gampang banget dicoba:
- Jaga Adab: Langsung merinding atau minimal mengucapkan selawat saat mendengar nama beliau disebut.
- Perbanyak Selawat: Bikin bibir kita terbiasa membasahi hari dengan selawat dan salam.
- Serius Meneladani: Niat dan berusaha sungguh-sungguh buat mengikuti sunnah dan ajaran hidup beliau (ittiba’).
- Cabang Ke-16: Bakhil/Gengsi Terhadap Agama Islam (Al-Bukhl bi Dinil Islam)
Kata “bakhil” di sini bukan berarti pelit harta, melainkan pelit dan super posesif terhadap status keislaman kita. Artinya, kita memegang teguh iman ini mati-matian. Rasa-rasanya, dibunuh atau masuk ke neraka pun jauh lebih rela daripada harus lepas iman atau murtad dari Islam.
Ada kisah epik dari zaman Umar bin Abdul Aziz tentang tiga prajurit muslim yang ditawan Raja Romawi. Mereka diancam dipancung kalau enggak mau murtad dan menyembah patung, tapi dijanjikan jabatan dan harta kalau mau murtad.
- Dua prajurit pertama menolak mentah-mentah dan memilih dihukum mati. Luar biasanya, saat kepala mereka terpenggal, kepalanya berputar sambil melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an!
- Tawanan ketiga merasa takut lalu memilih pura-pura murtad demi harta. Tapi ending-nya? Dia malah disuruh membunuh saudaranya sendiri dan tetap dieksekusi mati oleh sang raja karena dianggap pengkhianat yang enggak punya integritas.
Jadi, Gimana Sama Diri Kita?
Dari tiga cabang iman di atas, kita diajak buat merenung: apakah rasa cinta dan kepemilikan kita terhadap Islam sudah sekuat itu, atau masih sebatas status di KTP aja? Yuk, pelan-pelan kita benahi dan pupuk terus rasa cinta ke Rasulullah dan agama ini!
(Tim Beit Kilma Dupione)
STAY TUNE—
Website: ppduputri.or.id
YouTube: DUPI ONE TV
Instagram: dupione_malang
Tiktok: dupione
Facebook: Daarul Ukhuwwah Putri I
