Pondok Pesantren Daarul Ukhuwwah Putri

Iman Bukan Sekadar Pengakuan, tetapi Jalan Hidup Seorang Mukmin

Hari Rabu, 22 Juli 2026.

Kajian kitab Qomi’ut Thughyan karangan Syaikh Nawawi oleh Ustadz Ahmad Syakirin, Lc. MA.

Kitab ini berisi pembahasan tentang akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan bahasa yang ringkas namun padat. Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Syu’abul Iman karya Al-‘Allamah Sayyid Nuruddin Al-Iiji yang semula ditulis dalam bahasa Persia, kemudian diterjemahkan dan diringkas ke dalam bahasa Arab oleh Syaikh Nawawi sehingga lebih mudah dipelajari oleh para penuntut ilmu.

Iman tidak hanya berupa keyakinan yang tersimpan di dalam hati. Iman memiliki cabang-cabang (syu’abul iman) yang diwujudkan dalam berbagai amal kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’, sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa seluruh bentuk ketaatan kepada Allah termasuk bagian dari iman. Semakin banyak cabang iman yang diamalkan, semakin kuat kualitas keimanan seseorang. Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa iman dapat bertambah dan dapat berkurang. Artinya, kondisi iman seseorang tidak selalu sama. Ia harus terus dipelihara melalui ibadah dan amal saleh agar semakin kuat.

Dari Imam Nawawi, beliau berkata setelah seseorang belajar dalam waktu yang cukup lama (disebutkan sekitar tiga puluh tahun), hendaknya ia mulai menulis. Karena manfaat dari menulis itu salah satunya adalah berpahala.

Makna dari nasihat tersebut adalah bahwa seorang penuntut ilmu tidak hanya cukup memahami ilmu untuk dirinya sendiri, tetapi juga berusaha menyebarkan ilmu kepada orang lain. Banyak karya ulama besar tetap dipelajari hingga saat ini karena mereka menuliskan ilmu yang telah mereka pelajari.

Iman itu sebenarnya tashdiq, yaitu membenarkan atau meyakini kebenaran yang dibawa Rasulullah ﷺ. Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah—sebagaimana dijelaskan oleh banyak ulama hadis—iman mencakup tiga unsur:

  • Diyakini dengan hati.
  • Diikrarkan dengan lisan.
  • Diamalkan dengan anggota badan.

Karena itu, amal saleh menjadi bukti nyata dari keimanan seseorang. Orang yang benar-benar beriman akan terdorong untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Keimanan harus dibangun di atas keyakinan yang mantap (yaqin), bukan keraguan. Allah berfirman bahwa orang-orang mukmin adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu-ragu.

Adapun waswas atau bisikan hati yang tidak diinginkan dan tidak diyakini bukanlah keraguan yang membatalkan iman. Bahkan, selama seseorang membenci waswas tersebut dan tetap berpegang pada keyakinan yang benar, hal itu tidak mengeluarkannya dari keimanan.

 

(Tim Beit Kilma Dupione)

 

STAY TUNE—

Website: ppduputri.or.id

YouTube: DUPI ONE TV

Instagram: dupione_malang

Tiktok: dupione

Facebook: Daarul Ukhuwwah Putri I

Leave a Reply