Ngasih Umpan Neraka, Tapi Ngalap Buah Surga: Emang Bisa?
Sabtu, 29 Agustus 2026
Malam ini, kembali dengan muhadhoroh pekanan bersama Al-Ustadz Doktor Zainal Abidin mengkaji kitab Nashaikhul Ibad karangan Syaikh imam Nawawi Al-Bantani pada maqalah ke-16. Yang mana kali ini melanjutkan pembahasan tentang bahaya keterperdayaan diri (al-ightirar) atau angan-angan kosong dalam beragama.
Pernah enggak sih kamu merasa: “Ah, nyantai aja kali, dosa dikit-dikit enggak apa-apa, nanti kan Allah Maha Pengampun.” Sering kali kita bikin “alasan pamungkas” ini buat membenarkan kesalahan atau malas berbuat baik. Tapi, pernah mikir enggak kalau pola pikir kayak gini justru bikin kita terjebak dalam ilusi yang bahaya?
Nah, dalam muhadharah kali ini, bersama-sama kita mengupas sebuah nasihat mendalam dari ulama klasik, Yahya bin Mu’adh. Isinya nampol banget buat pengingat kita sehari-hari!
Jebakan ‘Self-Deception’ dalam Beragama
Di bab ini, Yahya bin Mu’adh menyentil sikap yang dinamakan al-ightirar—alias keterperdayaan atau halusinasi diri. Ciri-cirinya sederhana: orangnya hobi melanggar aturan, rajin menumpuk dosa, tapi dengan santainya merasa pasti masuk surga cuma modal mengharap pengampunan.
Para ulama mengibaratkan orang dengan kelakuan begini seperti “orang yang menanam biji neraka, tapi ngotot pengin memetik buah surga”. Aneh banget, kan? Mau dapet ending yang adem dan nikmat, tapi bibit yang disebar malah hal-hal yang bikin kebakaran di akhirat.
Hukum Sebab-Akibat Itu Nyata
Ingat, balasan yang bakal kita dapat nanti bukan cuma soal “angan-angan”, tapi soal apa yang benar-benar kita usahakan. Dalam Al-Qur’an, Allah sudah mengingatkan:
“Innama tujzauna ma kuntum ta’malun”
Artinya: “Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan.”
Hasil akhir enggak bakal mengkhianati proses. Kalau hari-hari kita diisi dengan maksiat dan abai sama perintah-Nya, ya jangan heran kalau “panen” kita nanti ikut pahit.
Logika Kapal di Atas Daratan
Buat makin memperjelas poin ini, ada bait syair Arab indah yang dikutip dalam ceramah tersebut:
Yarjun-najata wa lam yasluk masalikaha… Innas-safinata la tajri ‘alal-yabisi
Artinya: “Kamu mengharapkan keselamatan tapi enggak mau menempuh jalannya? Ingat, kapal itu enggak bakal pernah bisa berlayar di atas daratan yang kering!”
Secanggih apa pun kapalnya, kalau dipaksa jalan di atas tanah kering, ya enggak bakal gerak. Sama kayak impian masuk surga; kalau enggak ada ikhtiar beramal saleh, impian itu cuma bakal jadi mimpi di siang bolong.
Saatnya Buka Mata
Berharap pada rahmat Allah itu wajib, tapi harus dibarengi dengan usaha nyata. Jangan sampai kita cuma rajin “halu” pengin sukses dunia-akhirat, tapi malas melangkah di jalan yang benar. Yuk, perbaiki niat dan mumpung masih ada waktu, ubah bibit yang kita tanam hari ini biar panennya manis di kemudian hari!
(Tim Beit Kilma Dupione)
Sekian untuk muhadharah kali ini. Untuk melihat kajian selengkapnya, tonton juga video Live Streaming pada channel YouTube kami. Hanya di DUPI ONE TV!
STAY TUNE—
Website: ppduputri.or.id
YouTube: DUPI ONE TV
Instagram: dupione_malang
Tiktok: dupione
Facebook: Daarul Ukhuwwah Putri I
